Ketika susunan huruf terangkum dalam kata-kata yang lahirkan kalimat ungkapkan rasa, tak berarti apa-apa, jauh akan makna saat asmara tak mampu hampirinya. lahirlah sebuah tanya pada tepian muara.

akankah nurani?
nurani seperti apa?
nurani yang menjelma
menjelma? ada-ada saja
serius, ia memang ada
bentuknya?
berupa nama
hanya nama? bukan rupa atau lainnya?
ya, nama dari rupa
bukan rupa dari nama?
semuanya sama saja
aneh
kau tak suka dengan aneh?
(diam)
lupakan
aku malah bingung, nggak ngerti
kamu nggak akan ngerti, nggak sekarang
jadi, apa itu nurani?
nurani?
ya, jangan balik tanya (senyum lebar)
nurani adalah kamu
aku?
ya kamu bukan aku
aku atau kamu? (nada menggoda)
kamu nurani
katanya nurani adalah aku?
nurani menjelma nama atau nama menjelma nurani? (balas menggoda)
aneh (bingung)

10 Nov ‘09

Namamu masih kuat melekat
Untuk saat ini mungkin juga nanti
Rona ceriamu terus membayang
Seakan tak ingin kulepas hilang
Ingin kumiliki namun tak kuasa
Ternyata dirimu telah berpunya
Aku pun ragu tuk ungkap yang ada
Waktu kan menjawab semua
Adakah kesempatan untukku bicara
Rahasia hati ungkapkan rasa
Duduk berdua bercengkrama tuk bilang
Aku suka kamu adanya
Nyanyian pecinta pun bergema
Iringi langkahku langkah kita

kau bilang puisi itu susah dicerna
perlu jutaan kata hanya untuk sebuah tanya
cukup sebaris kata tuk ungkapkan rasa
tak perlu puisi atau pemanis kata

tak mengapa itu pendapatmu
tak mengapa aku terima itu
izinkan aku kan bicara
aku mohon dengarkan saja

aku tidak sedang berpuisi
karena ini bukan puisi
aku pun tak pandai merangkai kata
karena ini tak seperti bunga

kau kembali bertanya padaku
sulitkah bertanya akan rasa
kujawab tanpa ragu
sesulit dirimu tuk katakan iya
kau pun terdiam
lama sekali
ah mengapa kau diam
aku perlu jawabmu bukan diammu

kau kutunggu dibatas waktu
jika yakin bisikilah aku
kan kutanggalkan jubah kata
kita bercinta tanpa kata

peluh desah adalah gairah
keluh kesah telah musnah
kata-kata berganti rupa
rupa merangkum sukma

sekali lagi aku ingin bicara
aku tidak sedang berpuisi
hanya ingin kau tau bahwa kucinta
berharap kau mengerti

jika kau tak jua datang
biarkan aku bercinta dengan kata
tenggelam dalam secangkir makna
hayati hari masih senja

kutitipkan sebuah rasa
pada batang berwarna
aroma setiap hisapan
sensasi setiap hembusan

mereka bilang ini bahaya
akibatkan kematian dan sebagainya
aku tak perduli
mungkin aku malah senang

aku ingin mati muda
hanya keinginan bukan sebuah cita
seperti hisapan yang selalu kusisakan
pertanda aku masih punya harapan

dulu kubukan pecandu
kini kunikmati tapi bukan sebagai candu
sebagai pelarian ketika jiwa mendidih
kutitipkan aspirasi pada rokok putih

19.10.09

Berkelok jalan ini. Berkelok kulalui.
Tampak mentari. Kotamu kulalui.

Langit ditimur menampakkan merahnya, matahari mulai menampakkan diri. Jelas kulihat orange warnanya, seperti baru sekali kulihat matahari berwarna ini. Dan baru sekali ini kukatakan matahari berwarna orange, entah mengapa bukan kemerahan atau lainnya.

Samar namun jelas kulihat biru menjulang. Bayanganku kembali ke tiga tahun silam. Mataku berkaca. Ku pernah berjanji datang ke kota ini untuk menemui seseorang, dia pernah bercerita akan alam yang dimiliki kota ini. Imagiku saat itu, aku dan dia dapat menikmati indahnya biru menjulang, hamparan hijau kebun atau sawah didekatnya ada sungai yang airnya mengalir diantara bebatuan. Berdua duduk dibatu besar sambil membiarkan kaki memainkan air, bercanda, bercerita, obrolan yang mengalir seperti air.

Kini kutersadar, itu hanya imagiku yang lalu. Sepertinya tak mungkin tuk wujudkan itu.

Kotamu tlah kulalui
Ciptakan sepenggal mimpi

Sesaat kupejamkan mata, nampak jelas wajah dan senyummu. Ingin kubicara pada bayang, (namun) Air mata ini yang bicara.

Sumedang, 18.09′09

Melangkah lintasi batas kota
Mencoba hadirkan mimpi imagi
Kupilih sebuah nama untuknya
Berteduh sementara diamkan diri

Dijalan-jalan sudut kota
Rona nona sajikan pesona
Aneka sajian tawarkan selera
Riuh rendah canda tawa

Kota ini telah kusinggahi
Biarkan kupendam mimpi
Suatu saat ku kan kembali
Coba wujudkan imagi lagi

Tak salah kupilih nama
Jogja namamu

Jogja, 03.09′09 00:38

Hiruk pikuk mengantar senja
Dibatas letih batin mengadu
Sayup-sayup gema memanggil
Sadarkan ada gundah tersisa

Berat mungkin ringan mustahil
Bertanya diri terjawab diam
Kosong menjelma roh menyatu
Igauan musafir dahaga pemimpi

Terlihat lirih terdengar samar
Menanti pergi menghantar datang
Datangi ajal sisakan nalar
Menanti anggun tiada berlabuh

Bukan pahit manis sekarang
Hanya kenang kan hilang
Tak ada canda tawa
Apalagi duka bersama

Tanpa disadari namun sadar
Waktu bergulir dan bergilir
Gilirnya memupus rasa
Giliran kita peroleh coba

Kusimpan memori itu pada kotak terdalam
Berbingkai emas kuhargai pantas
Rapat berharap tak ada yang melihat
Rapi seakan tak kusentuh lagi

Bagaimana dengan kalian?
Terserah dengan memori kalian
ini caraku bukan caramu
Itu terserah tak masalah

atas persahabatan yang memudar

Seumuran itu waktu itu
aku telah menilai sosok sepertimu
sebagai sosok damba dampingiku
terlalu kerdil mungkin

awalnya biasa memang
olok-olokan khas seumuran bocah
bukan malu malu mau
tapi malu belum tentu

waktu berjalan jadikan wajar
tenang lembut khas dewasa
kau pun bisa bergemuruh
tapi tak buatku surut akan kagum

Saras
dimana kau kini?
bagaimana kabarmu?
sudah bersuami kah engkau?
sudah punya anak kah?
aku yakin anak-anakmu cantik dan tampan
berharap kini pun kau bahagia

Tanyaku,.

pada siapa ku menyapa?
karena apa ku menyapa?
apa yang musti ku sapa?
sapa berupa tanya

apa mungkin aku yang keliru?
atau mereka yang begitu?
jadikan ini itu begitu
nyata di mata jadi semu

mereka terkekeh
adakah yang aneh?
aku kah yang aneh?
aneh menjelma kekeh

kenapa harus mereka?
bukan kau atau dia?
aku dan mereka
bukan aku dan dia

jangan merasa aneh
biar aku yang aneh
juga mereka yang aneh
malah kau pun aneh